Kamis, 22 Desember 2011

makalah perawatan jenazah


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kita ini adalah makhluk Allah, dan setiap makhluk Allah yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Dimanapun kita berada maka kematian akan menjemput kita walaupun kita berada di benteng yang sangat kokoh.
Firman Allah SWT :
﴿ كل نفس ذاءقة الموت و إنّما تُوَفَّوْن أجوركم يوم القيامة ﴾ الآية  - آل عمران: ١٨٥
Artinya: Tiap-tiap yang bernyawa itu akan merasakan mati, sesunkagguhnya pahala kamu akan disempurnakan pada hari kiamat. (Ali Imron : 185)
Firman Allah SWT :
﴿ أينما تكونوا يدركّم الموت ولو كنتم في بروج مشيّدة ﴾ الآية  - النساء :  ٧٨
Artinya:Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (An Nisaa’ : 78)
            Adapun kematian dan kehidupan adalah merupakan ujian dari Allah swt sebagaimana terkandung dalam surah Al mulk ayat: 2
 ﴿ الذي خلق الموتۗ و الحياة ليبلوكم ايكم احسن عملا و هو العزيز الغفور ﴾ الملك : ٢
Artinya: yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan dia maha perkasa, maha pengampun.
            Adapun arti dari mati itu sendiri adalah berpisahnya ruh dengan jasad. Pada waktu itu adalah waktu yang sangat menentukan apakah kita husnul khotimah ataukah suu ul khotimah. Islam menempatkan manusia sebagai makhluk yang mulia bila dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Oleh karena itu dalam meninggalnya pun kita (yang) hidup diwajibkan untuk mengurusnya sebagaimana yang telah ditentukan oleh syara’. Akan tetapi masih banyak masyarakat islam yang masih belum mengerti tentang apa-apa yang harus dilakukan ketika ada ada saudara kita yang muslim meninggal dunia. Oleh karena itu penting sekali mengetahui tentang penyelenggaraan janaiz.
 B. RUMUSAN MASALAH
            Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka kami rumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Muhtadlor (orang yang mendekati ajal).
            2. تَجْهِيْزُ الْمَيِّتِ  (menyelenggarakan mayit)
3.      Ta’ziyah.
4.      Mati syahid dijalan Allah.
C. TUJUAN
            1. Mengetahui apa yang harus dilakukan pada muhtadlor.
            2. Mengetahui cara menyelenggarakan mayit.
            3. Mengetahui definisi ta’ziyah serta dalil-dalilnya.
            4. Mengetahui pengertian mati syahid dan hokum-hukumnya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. مُحْتَضَر    ( ORANG YANG MENDEKATI AJAL)
            Muhtadlor adalah orang yang mendekati ajal tetapi belum meninggal. Adapun adab-adab yang perlu diperhatikan bagi orang yang disampingnya/ menungguinya adalah sebagai berikut :
  1. Menidurkan muhtadhor atas lempengnya yang sebelah kanan menghadap ke kiblat, kalau tidak memungkinkan maka wajahnya saja dihadapkan ke kiblat.
  2. Mentalqin dengan kalimat LAA ILAHA ILLALLAH dengan lemah lembut, tidak memaksanya sebagaimana hadits nabi yang diriwayatkan oleh imam muslim
عن أبي سعيد و أبي هريرة رضي الله هنهما قالا : قال رسول الله صلى الله عليه و سلّم :( لقّنوا موتاكم لاإله إلاّ الله ) رواه المسلم
Artinya: talqinlah orang yang akan meninggal di antara kalian dengan kalimat  LAA ILAHA ILLALLAH (HR. Muslim).
  1. Membacakan disampingnya surat Yaasin dan Ar ro’d.
و عن معقل بن يسار رضي الله عنه أنّ النبي صلى الله عليه و سلم قال: ( إقرؤوا على موتاكم يس ) رواه ابو داود و النساءي
Artinya: bacakanlah orang yang akan meninggal di antara kalian surat YAA SIIN
  1. Menganjurkan untuk husnudzon billah dan taubat kepada Allah.

Hal-hal yang dianjurkan bagi orang yang sudah meninggal sebelum dimandikan :
  1. Memejamkan matanya.
  2. Mengikat dari dagunya ke kepalanya.
  3. Meluruskan sendi-sendinya (nyendakepno).
  4. Melepaskan pakaiannya, serta menutupinya dengan kain yang ringan.
  5. Meletakkannya diatas ranjang.
  6. menghadapkannya ke kiblat seperti muhtadlor.
  7. meletakkan diatas perutnya sesuatu yang bisa menekan perutnya.
  8. Mendoakan mayit.
  9. Cepat-cepat menyelesaikan tanggungannya.
  10.  Cepat-cepat menyelenggarakan mayit (memandikan, mengkafani,menyolati dan menguburkannya).

B. تَجْهِيْزُ الْمَيِّتِ  (MENYELENGGARAKAN MAYIT)
            Hukum menyelenggarakan mayit adalah fardlu kifayah atas orang yang mengetahui dari orang muslimin (lk) yang mukallaf. Maka tidak dianggap pekerjaan malaikat,perempuan atau anak kecil. Sebagaimana ijmaa’ul ulama’ yang disandarkan pada hadits-hadits yang akan datang pada bab-babnya, yang diwajibkan bagi mayit atas orang muslim (lk) yang mukallaf ada 4 perkara, yaitu:
1. Memandikan mayit
.           Syarat-syarat mayit yang perlu dimandikan
             a. Mayit itu seorang islam
             b. Ada tubuhnya walaupun sedikit
             c. Meninggal bukan karena mati syahid.
            Hukum memandikan mayit adalah sebagai berikut:
  1. Wajib : bagi orang muslim yang meninggalnya bukan karena perang di medan perang(melawan orang kafir), dan bukan bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
  2. Mubah : bagi orang kafir dzimmi dan bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
  3. Haram : orang yang mati syahid di medan peperangan.

Tata cara memandikan mayit :
  1. Paling sedikitnya: ( yang wajib ) menyiramkan air keseluruh badan mayit baik rambut atau kulit setelah menghilangkan najis ‘ainiyah yang ada pada mayit.
  2. Sempurnanya     : membasuh jalan depan dan belakang, menghilangkan kotoran-kotoran yang ada pada mayit, mewudlui mayit, memandikan mayit tiga siramannya atau ganjil, yang mana awalnya dengan sidir (daun bidara) atau sabun dan akhirnya dengan kapur barus. Didahulukan  bagian yang kanan kemudian bagian yang kiri.  Sebagaimana hadits Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :
عن أم عطية رضي الله عنها قالت : دخل علينا النبي صلى الله عليه و سلم ونحن نُغّسِل ابنته فقال : ( اغْسِلنَها ثلاثا أو خمسا أو أكثر من ذالك إن رأيتُنّ ذالك بماءٍ سدرٍ واجعلْن في الآخرة كافورًا أو شياءً من كافور ) الديث- متفق عليه
وفي رواية : ( إبدأن بميامنها و مواضع الوضوء منها )          
Artinya: pada waktu kami (ummi ‘atiyah) memandikan putri belia, Rosullah masuk pada kami dan bersabda: ( mandikanlah tiga atau lama siraman dengan sidir dan jadikan akhirnya dengan kapur barus atau sesuatu dari  kapur barus ).
Dan dalam riwayat yang lain : mulailah dengan bagian yang kanan dan tempat-tempat wudlu’nya.
Lebih jelasnya mari kita lihat dalam bagan dibawah ini:
Jumla siraman
Air + sidir / sabun
Air
Air + kapur
3
1
1
1
5
1
1
3
7
2
2
3
9
3
3
3
.          
Aturan memandikan mayat:
a.Mayat laki-laki dimandikan laki-laki, dan sebaliknya mayat wanita dimandikan pula oleh wanita, kecuali mahromnya laki-laki diperbolehkan..
Sabda Nabi SAW. :
عن عاءشة رضي الله عنها أنّ النبي صلى الله عليه و سلّم قال لها : (لو مُتِّ قبلي لغسلتك) الحديث- رواه احمد و ابن ماجة و صححه ابن حبان 
Artinya : Dari ‘Aisyah RA. : Bahwasanya Nabi SAW bersabda : Jika kamu meninggal dahulu sebelum saya, maka saya akan memandikanmu. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan disahkan oleh Ibnu Hibban)
b. Sebaiknya orang yang memandikan keluarganya yang terdekat.
c. Suami boleh memandikan isterinya, dan sebaliknya.
d. Yang memandikan tidak boleh menceritakan tentang cacat tubuh mayat itu andaikata ia bercacat.

2. Mengkafani mayit
Setelah mayat dimandikan dengan cukup sempurna, maka fardu kifayah bagi tiap-tiap mukmin untuk mengkafaninya. Kafan mayit diambilkan dari harta peninggalan mayit,jika tidak ada maka dari orang yang wajib menafkahinya ketika masih hidup, jika tidak ada maka diambilkan dari waqof kafan, jila tidak ada maka dari baitul maal, jika tidak ada maka dari orang muslim yang kaya.
            Hukum mengkafani mayit ada 3:
  1. Wajib   : bagi orang muslim, kafir dzimmi, (selain bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya).
  2. Sunnah: bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
  3. mubah : kafir harbi
Hak-hak kafan ada 4:
  1. Haknya Allah  : apa-apa yang menutupi aurot mayit.
  2. Haknya mayit  : apa-apa yang menutupi seluruh badan mayit dari kafan lapisan pertama.
  3. Haknya ghuroma’ : kafan lapisan kedua,ketiga.
  4. Haknya ahli warits : kafan lebih dari tiga lapis.
Kafan mayit:
  1. Paling sedikitnya : kain yang bisa membungkus seluruh badab mayit baik laki-laki maupun perempuan.
  2. Sempurnanya       :
 a. Laki-laki              : 3 lapis kain putih.
عن عاءشة رضي الله عنها قالت : ( كُفِّنَ رسول الله صلى الله عليه و سلّم في ثلاثة أثوابٍ بيضٍ سُحولية من كرسف ليس فيها قميص و لا عمامة ) متفق عليه
Artinya : Dari Aisyah RA berkata: Rosulullah dikafani dengan 3 lapis kain putih suhuluyah dari kapas  tanpa qomis dan imamah 
b. Perempuan        : 2 lapis kain puti + sarung + qomis +    kerudung
روي أنّ النبي صلى الله عليه و سلّم (ناول أم عطية رضي الله عنها في كفن إبنته أم كلثوم إزارا و درعا و خمارا و ثوبين ملاء ) – رواه أبو داود
Artinya: Diriwayatkan bahwasanya Nabi memberi Ummi ‘Athiyah untuk mengkafani putrinya sarung, qomis, kerudung, dan 2 lapis kain (HRn Abu Dawud).



C. Menyolati mayit
            Hukum menyolati mayit ada 3:
  1. Wajib   : orang muslim yang bukan karena syahid dan bukan bayi keguguran yang keluar dalam keadaan meninggal.
  2. Haram : orang yang syahid dalam medan peperangan, orang kafir dan bayi keguguran yang keluar dalam keadaan meninggal.
  3. Khilaful aula   : mengulangi sholat mayit.
Adapun waktu masuknya sholat jenazah adalah mulai dari dimandikannya mayit. Sedangkan syarat-syaratnya adalah sama seperti syarat-syaratnya sholat, hanya saja ditambah dengan syarat berdirinya tidak boleh mendahului atas mayit. Rukun-rukun saholat jenazah ada7:
1.      Niat.
2.      Empat takbir.
3.      Berdiri bagi yang mampu.
4.      Membaca surat Al Fatihah.
5.      Membaca sholawat atas Nabi SAW setelah takbir yang ke dua.
6.      Membaca do’a bagi mayit setelah takbir yang ke tiga.
7.      Salam.
Orang yang utama dalam menyolati mayit adalah kerabatnya yang lebih dekat kemudian dekat dst. Shalat jenazah dapat dilakukan atas seorang mayit atau beberapa orang mayit sekaligus. Shalat mayit boleh pula dilakukan beberapa kali, misalnya mayit sudah dishalatkan oleh sebagian orang, kemudian datanglah beberapa orang lagi untuk menyhalatkannya dan seterusnya.
              Jika shalat dilakukan berjamaah, maka Imam berdiri dengan menghadap kiblat, sedang makmum berbaris dibelakangnya, mayit diletakkan dengan melintang di hadapan Imam dan kepalanya disebelah kanan Imam. Jika mayit laki-laki hendaknya Imam berdiri menghadap dekat kepalanya, dan jika mayit wanita, Imam menghadap dekat perutnya.Salat jenazah tidak dengan ruku’ dan sujud serta tidak dengan adzan dan iqamat.
Cara Melaksanakan salat jenazah
             Setelah berdiri sebagaimana mestinya akan mengerjakan salat, maka:
  1. Niat menyengaja melakukan shalat atas mayit, dengan empat takbir menghadap kiblat karena Allah.
أصلي على هذا الميت / أصلي على من صلى عليه الإمام
  1. Takbiratul ihram ; mengucapkan   الله أكبر bersamaan niat.
  2. Membaca surat Al Fatihah (tidak membaca surat-surat yang lain), terus takbir.
  3. Sesudah takbir yang kedua, terus membaca salawat atas Nabi sebagai berikut :
اللهم صل عل سيدنا محمد و عل آل سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبرهيم و على آل سيدنا إبراهيم و بارك على سيدنا محمد و على آل سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم و على آل سيدنا إبراهيم في العالمين حميد مجيد
  1. Setelah takbir yang ketiga, kemudian membaca doa sekurang-kurangnya sebagai berikut :
اللهم اغفر له (لها) وارحمه (ها)  و عافه (ها) واعف عنه (ها)
Artinya : Ya Allah, ampunilah dia, berilah rahmat dan sejahtera dan maafkanlah   dia.
  1. Selesai takbir keempat, membaca doa sebagai berikut :
اللهم لا تحرمنا أجره (ها) و لا تفتنا بعده (ها) واغفر لنا و له (ها)
Artinya ; Ya Allah janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami, dan                                janganlah Engkau memberi kami fitnah sepeninggalnya, dan ampunilah kami dan dia.
g.   Kemudian memberi salam sambil memalingkan muka ke kanan dan ke kiri dengan ucapan :
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته
Artinya : Keselamatan dan rahmat dan barokah Allah semoga tetap pada kamu sekalian.

 D. menguburkan mayit
Setelah jenazah disholatkan sunahnya disegerakan diangkut ke kuburan. sebagaimana sabda Nabi SAW:
عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ النبي صلى الله عليه و سلّم قال :( أسرعوا بالجنازة فإن تك صالحة فخير تقدمونها إليه و إن تك سوى ذالك فشر تضعونه عن رقابكم ) متفق عليه
Artinya: segerakanlah dalam jenazah, jika orang sholeh maka baiknya kamu cepatkan dan jika orang yang tidak sholeh maka kejelekanlah jika kamu letakkan lama-lama dipundak kalian.
            Hukum menguburkan mayit ada 3:
  1. Wajib   : bagi orang muslim, kafir dzimmi, (selain bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya).
  2. Sunah  : bayi keguguran yang belum nampak anggota badannya.
  3. Mubah : bagi kafir harbi (tetapi apabila tidak dikubur baunya mengganggu orang lain maka menguburnya hukumnya wajib).
Menguburkan mayat bertujuan untuk menjaga kehormatannya oleh karena itu paling sedikitnya mengubur adalah lubang yang biasa menutupi baunya dan aman dari binatang buas. Sedangkan sempurnanya adalah ukuran tingginya orang pada umumnya ditambah dengan panjang tangannya ( sak dedeg sak pengawe ). Dan disunahkan menempelkan pipinya dengan tanah, serta wajib menghadapkannya ke kiblat.
Tata cara mengubur mayit ada 2:
  1. Lahad  : Liang lahad dibuat dipinggir arah kiblat.
  2. Syaq    : Liang dibuat ditengah galian seperti sungai.
 Adapun mayit wajib digali karena beberapa perkara:
  1. Karena belum dimandikan jika belum berubah.
  2. Untuk dihadapkan ke kiblat jika belum berubah.
  3. Karena harta yang dikubur bersamanya.
  4. Karena janin yang dikubur bersamanya dan di harapkan masih hidup

D. TA’ZIYAH
Arti ta’ziyah menurut bahasa adalah menghibur. Sedang menurut istilah adalah anjuran untuk bersabar atas musibah yang menimpa keluarga mayit dan mengingatkan agar jangan putus asa, serta mendoakan mayit dan mendoakan keluarga agar Allah ganti dengan yang lebih baik.
Hukumnya: Sunnah ta’ziyah pada kerabat mayit kecuali perempuan yang   masih muda      yang bukan mahromnya.
Keutamaannya:  Sebagaimana sabda Nabi SAW
( ما من مسلم يعزي أخاه بمصيبة إلاّ كساه الله من حلل الكرامة يوم القيامة ) – رواه إبن ماجة
Artinya: tiada dari seorang muslim yang menta’ziyahi saudaranya yang terkena musibah kecuali Allah memberikan pakaian padanya dari sutra karomah pada hari kiamat. (HR. Ibnu Majah)
( من عزّى مصابا فله مثل أجره ) – رواه الترمذي
Artinya: siapa yang menta,ziyahi orang yang tertimpa musibah maka baginya seperti pahala orang yang tertimpa musibah.(HR. Tirmidzi)
Waktunya: Dari dikuburnya mayit sampai tiga hari, kecuali orang yang jauh tempatnya maka dari datangnya sampai tiga hari.
Doanya: أعظم الله أجرك و أحسن عزاءك و غفر لميتك dengan berjabat tangan.
Adapun hukum menangis boleh-boleh saja asalkan tidak menimbulkan suara yang keras serta disertai dengan meratap dan memukuli wajahnya atau menyobek bajunya. Karena yang demikian menyebabkan mayit disiksa di dalam kubur.
Nabi SAW bersabda:
 عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه و سلم قال: ( الميت يعذب في قبره بما نيح عليه )- متفق عليه
Artinya: Dari Abdulla bin Umar RA dari Nabi SAW bersabda: Mayit di’adzab dalam kuburnya disebabkan tangisan padanya. (HR. Bkhori dan Muslim)
و عن أنس رضي الله عنه قال ( شهدت بنتا للنبي صلى الله عليه و سلم تدفن و رسول الله صلى الله عليه و سلم جالس على القبر فرأيت عينيه تدمعان )- رواه البخاري
Artinya: Dari Anas RA berkata: Saya menyaksikan putri Nabi SAW dikubur dan Rosulullah SAW duduk disamping kuburan dan saya melihat matanya menangis. (HR. Bukhori)

E. MATI SYAHID
            Orang yang mati syahid  yaitu orang yang mati di medan perang untuk meninggikan agama Allah. Diharamkan menyembahyangkan mereka, sebab darah orang yang mati syahid itu di hari kiamat akan jadi kusturi (bau wangi) di hadirat Tuhan.
Adapun orang yang mati syahid dibagi atas beberapa macam :
  1. Syahid dunia: yaitu orang yang mati di medan perang, hanya sekedar untuk mempertahankan tanah air, diri dan hartanya.
  2. Syahid akhirat: yaitu orang yang mati karam, terbenam, sakit perut, mati melahirkan anak.
  3. Syahid dunia dan akhirat: yaitu orang-orang yang mati di medan perang untuk meninggikan kalimah Tuhan.
Diatas syahid yang ketiga ialah terletaknya haram memandikan dan menyholati mereka. Adapun syahid yang pertama dan kedua itu diperlakukan sebagaimana mayat biasa asal saja badannya tidak hancur ketika mati itu.




F. ZIARAH KUBUR
            Dalil ziarah kubur:

عن بريدة بن الحصيب الأسلمي رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : (كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها ) –رواه مسلم و زاد الترمذ ( فإنها تذكر الآخرة )

Artinya; Dari buraidah al Hashib al salami RA berkata: Rosulullsh bersabda: adalah saya dulu  melarang kalian dari ziarah kubur sekarang ziarahlah 
عن أبي هريرة رضي الله عنه أنّ رسول الله صلى الله عليه و سلّم قال:( لعن الله زاءرات القبور )- رواه الترمذي و صححه إبن حبان
Artinya: Dari Abi Huroiroh RA sesungguhnya Rosul SAW bersabda: Allah mela’nat perempuan yang berziarah kubur (HR Tirmidzi dan disahkan oleh Ibnu Hibban).
Ziarah kubur hukumnya adalah sunah bagi orang laki-laki sebagaimana hadits di atas adapun perempuan dilarang, karena biasanya tidak kuat menahan tangis serta menimbulkan fitnah. Allah tidak melaknat suatu perbuatan kecuali itu dosa besar. Ziarah kubur itu dapat mengingatkan kita, bahwa kita sekarang masih diberi kenikmatan umur yang masih ada, namun bagaimanapun juga pada saatnya kita juga seperti yang kita ziarahi ini, yaitu mati. Karena itu sebelum mati itu datang, kita harus memperbanyak amal ibadah dan sedekah, sebagai bekal kelak di akhirat. Dan sebaik-baiknya bekal hanyalah taqwa kepada Allah SWT.
Adab ziarah kubur :
  1. Mengucapkan salam ketika memasuki tanah kuburan
  2. Membaca ayat-ayat Al Qur’an, seperti yasin dll.
  3. Mendoakan ahli kubur, terutama yang diziarahi
  4. Hendaknya bersikap sopan
  5. Jika tidak memungkinkan berziarah ke kubur kedua orang tua atau famili karena jauh, maka cukup mendoakan dari tempat dimana kita berada.









BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
- Bagi umat islam yang baik maka hendaklah selalu mengingat mati dimanapun berada.
- Kewajiban penyelenggaraan jenazah : memandikan, mengkafani, menyalatkan dan menguburkannya.
-  Rukun salat mayit : niat, berdiri, takbir empat kali, membaca fatihah, membaca salawat atas Nabi, mendoakan mayat, memberi salam.
-   Menghadiri takziah dan ziarah kubur memberikan banyak hikmah dan manfaat.


Daftar pustaka
1. Zein bin smith. 2003. Taqriiroot Sadiidah. Surabaya : Daar Al Uluum Al    Islamy.
2. Ibnu Hajar Al Asqolany. 2003. Bulugul Marom.Beirut : Daar Al Kutub  Al     Ilmiyah.
3. Musthofa .Dr. 1983.  Tadzhiib. Daar Al Fikri.
4. Mohamad Rifa’i. 1998. Mutiara Fiqh Jilid I. Semarang : Wicaksana.
5. Sulaiman, Rasjid. Fiqh Islam. Bandung : Sinar Baru.
            6. Ahmad, Masyhur. 1998. Durrot Al Yatiimah. Jakarta: Daar Al hawi.

















Rabu, 21 Desember 2011

TPQ AL WASHOYA

PONDOK PESANTREN AL-WASHOYA
TPQ AL-WASHOYA
Kertorejo Ngoro Jombang
 



























PROFIL TPQ AL-WASHOYA

            Berangkat dari keprihatinan  para dewan asatidz PON-PES Al Washoya, yang menilai bahwasanya pendidikan Islam anak-anak disekitar Pondok sangat minim, terutama mengenai baca-membaca Al Qur-an. Maka pada bulan juni tahun 2007 ditengah masyarakat yang mayoritas non muslim tepatnya Desa Kertorejo-Ngoro-Jombang  didirikanlah TPQ Al washoya, dibawah naungan PON-PES Al Washoya. Dengan mengemban misi mencetak generasi muda yang faham Al Qur-an, serta berakhlaq karimah sesuai dengan tuntunan Qur-an dan sunah Rosul. Berawal dari 5 santri sampai sekarang menjadi kurang lebih 40 santri. Adapun waktu belajar dimulai ba’da Ashar sampai pukul 16.30 WIB. Metode yang digunakan dalam pembelajaran Al Qur-an adalah metode tilawati. Disamping diajarkan Al Qur-an di TPQ Al Washoya juga diajarkan pelajaran tambahan seperti: Bahasa Arab, fiqih, nasyid dll.