Rabu, 30 Maret 2011

Hidup mulia atau mati syahid

Pada suatu hari rosulullah bangun dari tidurnya. Yang mana karena tempat tidur rosul terbuat dari pelepah kurma, maka membekaslah pelepah kurma itu pada punggung Nabi Muhammad saw. Salah seorang Sohabat yang melihat kejadian tersebut langsung saja menawarkan pada rosulullah jasa dengan perkataan nya : “ Ya rosulallah engkau ini pemimpin ummat kenapa masih tidur di tempat seperti ini, bagaimana jikalau engkau kami buatkan sebuah kasur “ tapi apa jawaban rosullah saw selaku pimpinan umat, seraya beliau bersabda : “ perumpamaan kita hidup di dunia ini hanya seperti orang yang perjalanan jauh kemudian berteduh di bawah pohon sebentar, kemudian meneruskan perjalanan “.
Dari hadits diatas kita tahu bahwasanya kita hidup didunia ini hanyalah sementara. Hanya untuk ukuran 60-70 tahun saja, ini sesuai dengan sabda Rosul saw : “ Panennya umatku kebanyakan antara umur 60 dan 70 tahun saja dan sedikit sekali yang melewaati umur tersebut “. Makanya Nabi kita juga mengingatkan kepada sohabat Abdullah bin ‘umar khususnya dan pada kita umumnya selaku umatnya agar kita hidup di dunia ini seakan-akan seperti orang yang menyeberang jalan, yakni waktu yang sangat singkat sekiali. Akan tetapi waktu yang sangat singkat inilah yang akan menentukan kelak kita termasuk orang yang bahagia disisi Allah atau orang yang celaka nantinya.
Dengan kata lain maka hidup kita yang hanya satu kali ini merupakan modal satu-satunya yang bisa kita gunakan untuk meraih kebahagiaan yang abadi disisi Allah swt. Dengan kita mengisi sisa hidup ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Baik dengan ilmu kita, harta kita, atau pangkat dan jabatan kita. Sehingga setiap saat yang kita lakukan adalah dalam rangka untuk menjadikan kita sebagai orang islam yang sempurna. Sebab termasuk tanda-tanda kesempurnaan islam kita adalah meninggalkan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Baik bagi kita sendiri, ataupun bagi orang lain.
Bisakah kita hidup mulia ?
Konsep hidup mulia adalah hidup dengan menegakkan kalimat LAILAHAILLALLOH dan mempertahankan sunnah sunnah Rosul dengan segala resikonya. Sebab akhir zaman orang yang berpegang teguh dengan sunnah ibarat orang yang memegang bara api. Apabila bara api itu dilepas maka akan padam. Dan apabila dipegang maka akan sangat menyakitkan sekali. Buktinya saja sekarang bukan hanya orang diluar islam yang tidak mau dengan syari’at islam, tapi justru orang islam sendiri yang menolak apabila ditegakkan syari’at islam. Kalau zaman jahiliyah dulu syariat islam dianggap aneh oleh orang kafir. Sedangkan sekarang anehnya sunnah nabi saw dianggap aneh oleh orang islam sendiri. Ini semua tepat sekali seperti apa yang dikabarkan oleh Ibnu dzabihatain saw :” awal-awal agama ini dianggap aneh, dan besuk-besuk akan kembali dianggap aneh. Maka beruntung bagi orang yang dianggap aneh. Yaitu orang-orang yang menghidupkan sunnahku ketika umatku sudah rusak “. Sehingga alangkah bahagianya kita apabila Rosululloh sendiri memuji kita karena ketaatan. kita terhadap sunnah sunnahnya. Itulah hidup yang mulia. Yaitu hidup dengan suasana madani serta penuh dengan sunnah Nabi Muhammad saw.
Kalau kita bisa menengok sejarah, sangat indahnya kehidupan para shohabat-sohabat Rosul saw. Yang mana setiap hari berjama’ah dibelakang Nabi saw. Ikut berperang bersama Rosulloh saw. Apabila mereka gugur maka surga beserta bidadari menanti. Apabila pulang, pulang dengan membawa kemenangan dan kemuliaan serta pahala yang tidak terkira nilainya. Bisakah kita menjadi mati syahid sedangkan sekarang sudah tidak ada perang ( dalam arti mengangkat senjata ) dengan orang kafir.
Bisakah kita mati syahid ?
Memang sekarang tidak ada jihad dalam bentuk perang mengangkat senjata. Akan tetapi masih banyak jalan untuk menuju kesana. Tujuan dari jihad itu sendiri adalah LI I’LAAI KALIMATILLAH. Oleh karena itu Suhada’ dibagi menjadi tiga bagian :
- Syahid dunia
- Syahid akhirat
- Syahid dunia akhirat
Syahid dunia adalah orang yang berperang melawan orang kafir tapi niatnya tidak karena Allah swt. Di dunia dinggap sebagai orang yang mati syahid akan tetapi disisi Allah bukan lah orang yang mati syahid.
Syahid akhirat adalah orang di dunianya tidak dianggap syahid akan tetapi besok besok oleh Allah dikumpulkan bersama orang yang mati syahid. Sedangkan syahid dunia akhirat adalah orang yang meninggal karena menegakkan kal LAAILAHA ILLALLOH serta niatnya juga lillah swt.
Sebelum ajal menjemput kita maka alangkah baiknya kalau kita mempersiapkan kematian dengan cara apakah yang akan kita kehendaki sebab sabda Rosululloh :” Manusia itu meninggal menurut kebiasaannya dia hidup”. Kita ingin meninggal dalam keadan apa maka seperti itulah kita harus istiqomahi dalam kehidupan kita seharihari ini.minimal kalau kita tidak mati syahid semoga Allah mengumpulkan kita bersama dengan orang yang mati syahid didalam surganya Allah swt. Amin…

Tidak ada komentar: